Dugem, konformitas?... Mahasiswa clubbing, di kampus??
Konformitas
ini merupakan suatu jenis
pengaruh sosial ketika seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar
sesuai dengan norma sosial yang ada. Meninjau Era
modern khususnya dalam pergaulan yang semakin bebas, sehingga
pergi ke tempat-tempat seperti bar, diskotik, pub dan lain-lain sudah menjadi
hal yang biasa dan tidak tabu bahkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup para umat muslim termasuk mahasiswa sekarang yang
lupa. Sebagai umat Isalm dan juga
secara umum sebagai mahasiswa, seyogyanya sebisa
mungkin menjauhi
dugem karena dugem menawarkan kehidupan permisif serta menjerumuskan pada
pergaulan bebas antara wanita dan pria, mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkoba dan
kemaksiatan lainnya. Menelaah perihal
itu mengapa Islam melarang umatnya untuk
memasuki dunia gemerlap dan tempat-tempat yang maksiat atau haram?
Karena bila kita selalu mendatangi
tempat-tempat maksiat dan sering memandang perbuatan-perbuatan maksiat ditempat
tersebut, maka akan ada kemungkinan keimanan kita dapat terkikis secara
langsung dan kita akan terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan
bahkan sampai mencintai hal tersebut. Agar iman seseorang muslim tidak
terkikis, Islam mewajibkan pada muslim yang melihat kemunkaran tersebut untuk
mencegahnya sesuai dengan kesanggupannya agar kebencian terhadap perbuatan
maksiat tetap ada.
Rasulullag SAW. bersabda :
“Siapa diantaramu melihat
kemunkaran, maka ubahlah(cegahlah) ia dengan tangannya, jika tidak sanggup maka
dengan lisannya, dan jika tidak sanggup maka dengan hatinya(tetap membencinya)
dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra)
Ada sekilas percakapan mengenai
perihal ini,
mungkin sering ditemui dalam obrolan dengan teman.
“Aku habis dugem tadi
malam,” seorang remaja memberitahu temannya.
“Wah...berarti kamu ke
diskotik donk? Itu kan tempat maksiat, Mas.”
“Iya, sesekali kita perlu
tahu dunia malam itu kayak gimana. Supaya hidup kita itu kaya wawasan. Aku
donk, tahu hitam putih dunia. Jadi aku ini termasuk gaul, nggak kuper,” katanya
bangga.
Sahabat muda, contoh sekilas percakapan antara dua anak
muda diatas bila saja tidak
disaring dengan baik, membawa beberapa informasi yang menyesatkan. Dalam
konteks tersebut, pembawa informasi memberitahukan tentang aktivitas dia
semalam yaitu dugem. Dugem atau dunia gemerlap yang dilakukan di dalam
diskotik. Namanya diskotik jelas saja berisi orang-orang yang berdisko, campur
aduk laki-laki dan perempuan.
Gaya berbusana juga pasti
disesuaikan. Tak mungkin mereka yang datang ke diskotik menutup aurat dengan
baik. Yang ada malah saling berlomba untuk seminim mungkin dalam berpakaian.
Jelas sekali tujuannya adalah untuk menarik perhatian lawan jenis untuk
mendatanginya. Gaul bebas menjadi trend yang tak mungkin dihindari dalam
ruangan maksiat ini. Bukan itu saja.
Minuman keras atau beralkohol juga menjadi hidangan biasa. Nggak mungkin kan
datang ke diskotik hanya untuk minum jus jambu. Transaksi narkoba dan seks pun
bukan menjadi hal yang tabu. Nah, tempat yang seperti inikah yang disebut
sebagai kaya wawasan, gaul dan nggak kuper?
Jelas saja ini pernyataan yang
menyesatkan. Sebagai remaja dan
sekaligus mahasiswa yang cerdas tentu saja kita gak bakal mudah percaya begitu saja.
Sebaliknya, pikiran kritis pun senantiasa
berjalan.
Budaya konformitas tersebut cukup dipengaruhi oleh teman sebaya dan rasa
ingin tahu yang dirasakan Mahasiswa membuat Mahasiswa konform agar diakui dalam
kelompoknya. Setelah mengetahui klub malam, mereka tidak merasa cukup puas
sehingga berkeinginan untuk semakin sering mengunjungi klub malam, hal itu juga
di dukung oleh teman-teman sebaya yang mendorong untuk berkunjung ke klub
malam. Ketika salah seorang dari kelompok mereka tidak ikut, mereka merasakan
rasa kecewa dan tidak nyaman, merasa kurang lengkap dan kurang asik, begitu hal
nya yang dirasakan informan apabila tidak dapat ikut bergabung dengan
teman-temannya ke klub malam. Rasa percaya dan adanya kesepakatan antara
individu dengan kelompoknya membuat keyakinan mereka semakin kuat untuk
berkunjung ke klub malam.
Mendatangi
tempat-tempat seperti demikian seolah mengapresiasi akan aktifitas tersebut
baik dari segi budaya maupun agama yang mana di dalamnya terdapat lebih banyak
mudhorot daripada sisi kebaikannya.
Alloh
Subhanallohuwata’ala Berfirman :
وَعَادًا
وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ ۖ وَزَيَّنَ لَهُمُ
الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا
مُسْتَبْصِرِينَ.
“Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan (buruk)
mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), padahal mereka adalah
orang-orang berpandangan tajam” (Al-Ankabut: 38).
dengan demikian mari kita berusaha untuk memperbaiki diri agar tidak terjerumus dalam lubang syaithon. Jika kegiatan malam seperti dugem, party, maupun aktifitas kurang bermanfaat lainnya masih sering dilakukan maka mulai saaat ini dijauhi karena menelisik pada dampaknya yang kurang baik, terutama dari segi agama.
Source :
anwari, misbakhul. (2018). KONFORMITAS KELOMPOK
PADA MAHASISWA YANG MENYUKAI DUGEM (CLUBBING). (September), 160–164.
Dugem, Party, Minum Bir. (n.d.).
Hukum Korupsi Dalam Islam dan Dalilnya - DalamIslam.com. (n.d.). Retrieved from
https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-korupsi-dalam-islam
Menjauhi Tempat-Tempat yang Haram. (n.d.).
Pengaruh Gaya Hidup Dugem Kalangan Mahasiswa di Yogyakarta -
Kompasiana. (n.d.).
Comments
Post a Comment