Sosiologi Komunikasi

A.Lahirnya Sosiologi Komunikasi
            Asal mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi Karl Mark, dimana Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran Jerman sementara Claude Henrit Saint-Simon, August Comte, dan Emile Durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis.
            Sementara itu gagasan awal tentang marx tidak pernah lepas dari pemikiran-pemikiran Hegel. Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Marx, bahkan Karl Marx muda menjadi seorang idealisme (bukan materialisme) justru dari pemikiran-pemikiran radikal Hegel tentang idealisme, adapun kemudian Marx tua menjadi seorang materialisme, hal itu adalah sebuah pengalaman pribadi manusia dalam prosesnya dengan konteks sosial yang dialami oleh Marx sendiri.
            Menurut Ritzer (2004: 26), pemikiran Hegel yang paling utama dalam melahirkan pemikiran-pemikiran tradisional konflik dan kritis adalah ajarannya adalah tentang dialektika dan idealisme. Dialektika adalah cara berfikir dan citra tentang dunia. Sebagai cara berfikir, dialektika menekankan arti penting dari proses, hubungan, dinamika, konflik, dan kontradiksi. Pemahaman tentang dunia dialektika semacam inilah (terutama melihat dunia sebagai bagian yang berhubungan satu dengan lainnya) di kemudian hari melahirkan gagasan-gagasan tentang komunikasi seperti apa yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas dengan tindakan komunikatif (interaksi).
            Dengan demikian, sejarah sosiologi komunikasi menempuh dua jalur. Bahwa kajian dan sumbangan pemikiran Auguste Comte, Durkheim, Talcott Parson dan Robert K.Merton merupakan sembangan paradigma fungsional bagi lahirnya teori-teori komunikasi yang beraliran struktural-fungsional. Sedangkan sumbangan-sumbangan pemikiran Karl Marx dan Habermas menyumbangkan paradigma konflik bagi lahirnya teori-teori kritis dalam kajian komunikasi.
  

Aliran pemikiran yang melahirkan paradigma dalam sosiologi komunikasi :
Struktural-Fungsional :  
Auguste comte
Emile Durkheim
Talcott Parson 
Rabert K. Merton
 
Konflik-Kritis :
Karl Marx
Jurgen Habermas
John Dewey
  
 
B. Manusia Sebagai Mahluk Sosial
            Manusia pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri di dalam dunia ini baik sendiri dalam konteks fisik maupun dalam konteks sosial-budaya. Terutama dalam konteks sosial-budaya, manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berkolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan fungsi-fungsi sosial satu dengan lainnya. Karena pada dasarnya suatu fungsi yang dimiliki oleh manusia satu akan sangat berguna dan bermanfaat bagi lainnya. karena fungsi-fungsi sosial yang diciptakan oleh manusia ditujukan untuk saling berkolaborasi dengan sesama fungsi sosial manusia lainnya. dengan kata lain, manusia menjadi sangat bermartabat apabil bermanfaat dengan manusia lainnya.
Manusia memiliki kemampuan sosial sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Dalam kenyataannya, kemampuan fungsional manusia dapat dilakukan secara simultan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahluk individu, mahluk sosial dan mahluk spiritual. Manusia dengan kecerdasannya dapat memisahkan fungsi-fungsi tersebut berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan serta kondisi sosial yang mengitarinya. Kemampuan-kemampuan fungsional inilah yang menjadikan manusia berbeda secara fundamental dengan mahluk-mahluk hidup yang lainnya di muka bumi.
            Fungsi-fungsi sosial manusia lahir dari kebutuhan akan fungsi tersebut oleh orang lain, dengan demikian produktivitas fungsional dikendalikan oleh berbagai macam kebutuhan manusia. Kebutuhan adanya sebuah sinergi fungsional dan akselerasi positif dalam melakukan pemenuhan kebutuhan manusia satu dengan lainnya ini kemudian melahirkan kebutuhan tentang adanya norma-norma dan nilai-nilai sosial yang mampu mengatur tindakan manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhannya, sehingga tercipta keseimbangan sosial (social equilibrium) antara hak dan kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan manusia, terutama juga kondisi keseimbangan itu akan menciptakan tatanan sosial (social order) dalam proses kehidupan masyarakat saat ini dan di waktu yang akan datang. 

Sosiologi
Kata sosiologi berasal dari kata sofie, yaitu bercocok tanam atau bertaman, kemudian berkembang menjadi socius, dalam bahasa latin yang berarti teman, kawan. Berkembang lagi menjadi kata sosial, yang artinya berteman, bersama, berserikat.
            Pitirin Sorokin (Soekanto, 2003: 19), mengemukakan sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari :
a.       Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya: antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya)
b.      Hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial (misalnya: gejala geografis, biologis dan sebagainya)
c.       Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial
          Selo Soemardjan dan Soelaman Soemardi (Soekanto, 2003: 20), mengatakan bahwa, sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok, serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan hukum dengan segi kehidupan ekonomi, dan lain sebagainya. Salah satu proses sosial yang bersifat tersendiri ialah dalam hal terjadi perubahan-perubahan di dalam struktur sosial.


Komunikasi
Kata atau istilah “komunikasi” (dari bahasa inggris “communication”) berasal dari “communicatus” dalam bahasa latin yang artinya “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan demikian komunikasi, menurut Lexicograper (ahli kamus bahasa), menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Sementara itu, dalam Webster’s New Colleglate Dictionary edisi tahun 1977 dijelaskan bahwa komunikasi adalah “suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda, atau tingkah laku”.
            Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa”, “mengatakan apa”, “dengan saluran apa”, “kepada siapa”, dan “dengan akibat atau hasil apa”. (Who? Says what? In which channel ? To whom? With what effect?). (Lasswell, 1960)

 
Komunikasi manusia dapat ditelusuri sejak sekitar 4000 tahun Sebelum Masehi, sejak zaman itu hingga sekarang, sejarah perkembangan komunikasi manusia dapat dibagi dalam empat (4) era perubahan : era komunikasi tulisan terjadi sejak Bangsa Sumeria mulai mengenal kemampuan  menulis dalam lembaran tanah liat sekitar 4000 tahun SM, era komunikasi cetakan diawali dengan ditemukannya mesin cetak ”Hand-press” oleh Gutenberg pada tahun 1456. Era telekomunikasi dimulai sejak penemuan alat telegraph oleh Samuel Morse pada tahun 1844, era telekomunikasi interaktif, mulai terjadi pada tahun 1946, dengan ditemukannya “Mainframe Computer” ENIAC dengan 18.000 cacuum tubes oleh para ahli dari universitas Pennyslvania, Amerika Serikat.

Sosiologi Komunikasi
            Menurut Soerjono Soekanto (Soekanto, 1992: 471), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Menurut Soekanto, sosiologi komunikasi juga ada kaitannya dengan public speaking, yaitu bagaimana seseorang berbicara kepada publik.
Komunikasi dibagi menjadi 5 jenis :
1)      Komunikasi individu dengan individu (komunikasi antar pribadi)
2)      Komunikasi kelompok
3)      Komunikasi organisasi
4)      Komunikasi sosial
5)      Komunikasi massa
Menurut Effendy (2001: 6-9), ikhtisar mengenai lingkup ilmu komunikasi ditinjau dari komponennya, bentuknya, sifatnya, metodenya, tekniknya, modelnya, bidangnya, dan sistemnya.
 
3. Bentuk Komunikasi
a.      Komunikasi Personal (Personal Communication)
1.      Komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication)
2.      Komunikasi antarpersonal (interpersonal communication)
b.      Komunikasi Kelompok (Group Communication)
1.      Komunikasi kelompok kecil (small group communication)
a.       Ceramah (lecture)
b.      Diskusi panel (panel discussion)
c.       Simposium (symposium)
d.      Forum
e.       Seminar
2.      Komunikasi kelompok besar (Large group communication)
c.       Komunikasi Massa                    Pers, Radio, Televisi, Film, Dll.
d.      Komunikasi Media                    Surat, Telepon, Pamflet, Poster, Spanduk, Dll.
4. Sifat Komunikasi
a.       Tatap muka (face-to-face)
b.      Bermedia (mediated)
c.       Verbal               Lisan dan Tulisan/Cetak
d.      Nonverbal           Isyarat badaniah dan Bergambar
5. Metode Komunikasi
a.       Jurnalistik
b.      Hubungan Masyarakat
c.       Periklanan
d.      Pameran
e.       Publisitas
f.        Propaganda
g.      Perang urat saraf
h.      Penerangan 

6. Teknik Komunikasi 
  
Komunikasi Persuasif
Hubungan Manusiawi  
Komunikasi Instruktif
 Komunikasi Informatif 
 
8. Fungsi Komunikasi : - Menyampaikan sikap – Mendidik – Menghibur – Memengaruhi
9. Model Komunikasi : - Komunikasi satu tahap - Komunikasi dua tahap – Komunikasi  multitahap
10. Bidang Komunikasi
- Sosial
- Manajemen
- Perusahaan
- Politik  
- Internasional 
- Antar Budaya   
Pembangunan 
- Lingkungan 
- Tradisional
 
Ranah, Kompleksitas dan Objek Komunikasi
Ranah      :      Efek media massa, Komuikasi, Budaya kosmopolitan, Individu kelompok masyarakat dunia,                                                                                                                                      Proses dan interaksi sosial, Teknologi telematika.
Kompleksitas
Sosiologi komunikasi memiliki  objek kajian yang terbuka luas setiap saat, seirama dengan cepatnya perubahan-perubahan sosial-budaya dan teknologi media yang berkembang di masyarakat beserta semua aspek yang mengikutinya. Saat ini, arah perkembangan sosiologi komunikasi ditentukan oleh pesatnya perkembangan dunia teknologi komunikasi yang kemudian secara simultan memengaruhi ranah-ranah sosial dan budaya masyarakat di setiap lapisan masyarakat. Maka, luasan objek kajian sosiologi komunikasi juga ikut dipengaruhi oleh perkembangan ranah-ranah sosial-budaya dan teknologi media itu dengan segala aspek yang mengikutinya.
Objek
Setiap bidang dalam masing-masing Ilmu Sosial memiliki objek yang sama untuk dikaji, yaitu manusia. Objek materil dari sosioogi komunikasi ialah proses sosial dan komunikasi. Sedangkan objek formal dalam studi sosiologi komunikasi menekankan pada aspek aktivitas komunikasi, aspek ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan manusia bersama orang lain. Aspek-aspek nya adalah sebagai berikut :
-   Telematika dan realitasnya
-   Efek media dan norma sosial baru
-   Perubahan sosial dan komunikasi
-   Masalah sosial dan media massa
-   Cybercommunity
-   Aspek hukum dan bisnis media


 

References

Bungin, B. (2009). Sosiologi Komunikasi. jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.
Pяaz, T. (-, - -). SEJARAH SOSIOLOGI KOMUNIKASI. Diambil kembali dari https://blog.scribd.com/: https://www.scribd.com/doc/52079300/SEJARAH-SOSIOLOGI-KOMUNIKASI
sendjaja, s. d. (1993). pengantar komunikasi. universits terbuka: universitas terbuka.


Rabu, 04 September 2019  21:36
Di Upload di kos yamin
 

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH WIDYA MWAT YASA

Merantaulah dan Lihatlah Dunia

Tambun